Memandangkan bulan Februari dikaitkan dengan bulan memperingati kekasih, maka aku rasa agak sesuai untuk aku kongsikan sesuatu bersama pembaca sekalian.. Bila disebut pasal kekasih saja minda kita memang tidak dapat lari dari memikirkan kaitannya dengan cinta.. Semua insan yang memiliki hati dan perasaan akan mengalaminya.. Masing² mengharapkan rasa cinta itu dapat membawa dan memimpin mereka menuju ke gerbang perkahwinan sekaligus ke akhir hayat.. Namun, tanggungjawab dan komitmen dalam percintaan tidak semudah yang kita sangkakan sebagaimana mudahnya kita melafazkan kalimah cinta itu..
Pelbagai definisi cinta dan pandangan terhadapnya boleh kita perolehi.. Salah satu daripadanya ialah ada yang setuju menyatakan cinta ini seharusnya disandarkan pada material.. Love is money, no money no love.. tanpa duit percintaan menjadi hambar.. Tapi, sejauhmana percintaan material ini mampu bertahan? Adakah kita sebenarnya rasa memadai sekiranya diri kita ini hanya perlu dicintai sewaktu kita berduit (senang) sahaja dan apabila kita tidak berduit (susah) kita ditinggalkan dan dilabelkan sebagai tidak layak untuk dicintai? Renungkan..
Sebenarnya ape itu cinta? Pada siapa sepatutnya diletakkan cinta? Adakah cinta sejati itu benar² wujud atau sekadar suatu dongengan saja? Seandainya cinta sejati itu wujud, apakah ciri² serta komponen² yang perlu ada dan yang sepatutnya terkandung dalamnya? Adakah cinta sejati itu perlu mengikut kehendak bentuk acuan cinta yang sering kita inginkan, impikan dan angankan? Bagi mendapatkan jawapan untuk setiap persoalan yang aku timbulkan ini, berikut adalah suatu kisah yang aku anggap begitu menyentuh perasaanku dalam mencari pengertian sebenar cinta sejati untuk dijadikan bahan dalam entri ini.. Kisah ini adalah nukilan anisz2009.. Begini kisahnya..
Pelbagai definisi cinta dan pandangan terhadapnya boleh kita perolehi.. Salah satu daripadanya ialah ada yang setuju menyatakan cinta ini seharusnya disandarkan pada material.. Love is money, no money no love.. tanpa duit percintaan menjadi hambar.. Tapi, sejauhmana percintaan material ini mampu bertahan? Adakah kita sebenarnya rasa memadai sekiranya diri kita ini hanya perlu dicintai sewaktu kita berduit (senang) sahaja dan apabila kita tidak berduit (susah) kita ditinggalkan dan dilabelkan sebagai tidak layak untuk dicintai? Renungkan..
Sebenarnya ape itu cinta? Pada siapa sepatutnya diletakkan cinta? Adakah cinta sejati itu benar² wujud atau sekadar suatu dongengan saja? Seandainya cinta sejati itu wujud, apakah ciri² serta komponen² yang perlu ada dan yang sepatutnya terkandung dalamnya? Adakah cinta sejati itu perlu mengikut kehendak bentuk acuan cinta yang sering kita inginkan, impikan dan angankan? Bagi mendapatkan jawapan untuk setiap persoalan yang aku timbulkan ini, berikut adalah suatu kisah yang aku anggap begitu menyentuh perasaanku dalam mencari pengertian sebenar cinta sejati untuk dijadikan bahan dalam entri ini.. Kisah ini adalah nukilan anisz2009.. Begini kisahnya..
------------------------------
Aku mencintai suamiku kerana sifatnya yang semulajadi dan aku begitu menyukai perasaan hangat yang muncul di hati ketika bersandar di bahunya yang bidang. Tiga tahun dalam alam perkenalan, dan dua tahun dalam alam perkahwinan, harus aku akui bahawa aku mulai rasa bosan dan lelah dengan kehidupan berumahtangga dengannya dan alasan-alasan mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Aku seorang wanita yang berjiwa sentimental dan benar2 sensitif serta berperasaan halus. Aku merindui saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan belaian. Tetapi semua itu tidak lagi aku perolehi. Suamiku jauh berbeza dari apa yang aku harapkan dulu. Rasa sensitifnya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam perkahwinan kami telah memusnahkan semua harapan tentang kehidupan cinta yang ideal. Suatu hari, aku beranikan diri untuk menyatakan keputusan untuk bercerai.
“Mengapa?”, dia bertanya dengan terkejut.
“Aku lelah, kamu tidak pernah memberikan cinta yang aku inginkan”
Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, nampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak. Kekecewaan aku semakin bertambah, seorang lelaki yang tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang dapat aku harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, “Apa yang dapat aku lakukan untuk mengubah fikiranmu?”. Aku menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan perlahan, “Aku ada satu pertanyaan, jika kau dapat menemui jawapannya, aku akan mengubah fikiranku: Seandainya, aku menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kau memanjat gunung itu, kau akan mati. Apakah kau akan melakukannya untukku?” Dia termenung dan akhirnya berkata, “Aku akan memberikan jawapannya esok.” Hatiku langsung gundah mendengar reaksinya. Keesokan paginya, suamiku tiada di rumah, dan aku menemui selembar kertas dengan coretan tangannya di bawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertulis…
“Sayang, aku tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi izinkan aku untuk menjelaskan alasannya.” Kalimat pertama ini menghancurkan hatiku. Aku lantas terus membacanya.
“Sayang, kau biasa menggunakan komputer dan selalu menghadapi masalah kerosakan program di dalamnya dan akhirnya menangis di depan monitor, Aku harus memberikan jari-jariku supaya dapat membantumu dan memperbaiki programnya.”
“Kau selalu lupa membawa kunci rumah ketika keluar rumah, dan aku harus memberikan kakiku supaya dapat menendang pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang.”
“Kamu suka jalan2 ke luar kota tetapi selalu sesat di tempat-tempat baru kamu kunjungi, Aku harus menunggu di rumah agar dapat memberikan mataku untuk mengarahkan jalan untukmu.”
“Kamu selalu kelelahan pada waktu ‘teman baikmu’ datang setiap bulan, dan aku harus memberikan tanganku untuk memicit kakimu yang kebas.”
“Kamu seorang yg suka diam di rumah, dan aku selalu khuatir kamu akan menjadi ‘aneh’. Dan aku harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburkanmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami.”
“Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesihatan matamu, aku harus menjaga mataku agar ketika kita tua nanti, aku masih dapat menolong memotong kukumu dan mencabuti ubanmu.”
“Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menyusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna2 bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu”.
“Tetapi sayangku, aku tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Kerana, aku tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku.”
“Sayangku, aku tahu, di luar sana ada banyak orang yang mampu mencintaimu lebih dari aku mencintaimu.”
“Untuk itu sayangku, jika semua yang telah kuberikan dengan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Aku tidak dapat menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu.” Air mataku jatuh di atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi aku tetap berusaha untuk membaca selanjutnya…
“Dan sekarang, sayangku, kamu telah selesai membaca jawapanku. Jika kau berpuas hati dengan semua jawapan ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, aku sekarang sedang berdiri di luar pintu menunggu jawapanmu.”
“Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk mengambil barang-barangku, dan aku tidak akan menyusahkan hidupmu. Percayalah, kebahagiaanku adalah apabila kau bahagia.”. Aku segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah keliru sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku. Oh, kini baru aku tahu, tidak ada orang lain yang pernah mencintaiku lebih dari dia mencintaiku. Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah beransur-ansur hilang dari hati kita kerana kita merasakan pasangan kita tidak dapat memberikan cinta dalam bentuk yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam bentuk lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Seringkali yang kita perlukan adalah memahami bentuk cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan bentuk tertentu kerana cinta tidak selalu harus berbentuk “bunga”.
“Mengapa?”, dia bertanya dengan terkejut.
“Aku lelah, kamu tidak pernah memberikan cinta yang aku inginkan”
Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, nampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak. Kekecewaan aku semakin bertambah, seorang lelaki yang tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang dapat aku harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, “Apa yang dapat aku lakukan untuk mengubah fikiranmu?”. Aku menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan perlahan, “Aku ada satu pertanyaan, jika kau dapat menemui jawapannya, aku akan mengubah fikiranku: Seandainya, aku menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kau memanjat gunung itu, kau akan mati. Apakah kau akan melakukannya untukku?” Dia termenung dan akhirnya berkata, “Aku akan memberikan jawapannya esok.” Hatiku langsung gundah mendengar reaksinya. Keesokan paginya, suamiku tiada di rumah, dan aku menemui selembar kertas dengan coretan tangannya di bawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertulis…
“Sayang, aku tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi izinkan aku untuk menjelaskan alasannya.” Kalimat pertama ini menghancurkan hatiku. Aku lantas terus membacanya.
“Sayang, kau biasa menggunakan komputer dan selalu menghadapi masalah kerosakan program di dalamnya dan akhirnya menangis di depan monitor, Aku harus memberikan jari-jariku supaya dapat membantumu dan memperbaiki programnya.”
“Kau selalu lupa membawa kunci rumah ketika keluar rumah, dan aku harus memberikan kakiku supaya dapat menendang pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang.”
“Kamu suka jalan2 ke luar kota tetapi selalu sesat di tempat-tempat baru kamu kunjungi, Aku harus menunggu di rumah agar dapat memberikan mataku untuk mengarahkan jalan untukmu.”
“Kamu selalu kelelahan pada waktu ‘teman baikmu’ datang setiap bulan, dan aku harus memberikan tanganku untuk memicit kakimu yang kebas.”
“Kamu seorang yg suka diam di rumah, dan aku selalu khuatir kamu akan menjadi ‘aneh’. Dan aku harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburkanmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami.”
“Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesihatan matamu, aku harus menjaga mataku agar ketika kita tua nanti, aku masih dapat menolong memotong kukumu dan mencabuti ubanmu.”
“Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menyusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna2 bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu”.
“Tetapi sayangku, aku tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Kerana, aku tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku.”
“Sayangku, aku tahu, di luar sana ada banyak orang yang mampu mencintaimu lebih dari aku mencintaimu.”
“Untuk itu sayangku, jika semua yang telah kuberikan dengan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Aku tidak dapat menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu.” Air mataku jatuh di atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi aku tetap berusaha untuk membaca selanjutnya…
“Dan sekarang, sayangku, kamu telah selesai membaca jawapanku. Jika kau berpuas hati dengan semua jawapan ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, aku sekarang sedang berdiri di luar pintu menunggu jawapanmu.”
“Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk mengambil barang-barangku, dan aku tidak akan menyusahkan hidupmu. Percayalah, kebahagiaanku adalah apabila kau bahagia.”. Aku segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah keliru sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku. Oh, kini baru aku tahu, tidak ada orang lain yang pernah mencintaiku lebih dari dia mencintaiku. Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah beransur-ansur hilang dari hati kita kerana kita merasakan pasangan kita tidak dapat memberikan cinta dalam bentuk yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam bentuk lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Seringkali yang kita perlukan adalah memahami bentuk cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan bentuk tertentu kerana cinta tidak selalu harus berbentuk “bunga”.







